Selasa, 15 Januari 2013

Devi Oktavianti F01111024




FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU EPISODE TANGKAI SENI HADRAH DAN SEMINAR INTERNASIONAL MELAYU GEMILANG

Hal tak biasa terlihat di Rumah Adat Melayu, di halaman depan penuh dengan motor yang terparkir. Sementara itu di dalam pagar banyak berdiri tenda yang menjual berbagai macam barang mulai dari makanan, baju, aksesoris, bahkan barang elktronik pun tersedia disana. Walaupun matahari sudah beristirahat di ufuk barat dan telah berganti dengan pancaran rembulan tidak mengurungkan niat para penonton untuk mengunjungi Festival Seni Budaya Melayu yang pada tahun ini Pontianak menjadi tuan rumah. Festival ini mengangkat tema “Seni Cemerlang Melayu Gemilang”, yang diselenggarakan oleh Majelis Adat Budaya Melayu pada tanggal 17 sampai 23 Desember 2012. Festival Seni Budaya Melayu diikuti oleh 13 kota/kabupaten di Kalimantan Barat kecuali Kabupaten Ketapang yang tidak ikut serta. Beberapa cabang yang dilombakan adalah berbalas pantun, tari melayu, dan vokal group. Selain itu ada beberapa rangkaian acara seperti seminar,bazaar, dan lain-lain.
Malam  ini tanggal 20 September 2012 ribuan pasang mata berbondong-bondong  menyaksikan Festival Seni Budaya Melayu. Sesuai dengan jadwal, malam ini akan dilombakan Tangkai Seni Hadrah pada pukul 19.00 WIB, akan tetapi perlombaan baru dimulai pukul 20.00 WIB. Masyarakat yang sebelumnya berada di luar mulai masuk ke Rumah Adat Melayu untuk menyaksikan perlombaan Tangkai Seni Hadrah, termasuk saya dan teman-teman ketika masuk ke ruangan suasana sangat gaduh dan tidak ada kursi yang tersedia sehingga kami memutuskan untuk duduk lesehan dibagian depan. Pertama pembukaan oleh pembawa acara yang sekaligus memberikan beberapa pengarahan kepada para penonton. Setelah itu pembawa acara memperkenalkan para dewan juri, yang pertama Syarif Slamet Yusuf Al-Qadrie. Juri kedua Syawaludin dan terakhir Mu’in. Kemudian para juri menempati singgasana yang telah disiapkan oleh panitia Festival Seni Budaya Melayu.
Saat yang ditunggu tiba, penampilan pertama dari DPD Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Pontianak. Secara spontan para penonton memberikan tepuk tangan dan teriakan yang menggemparkan ruangan. Para penari dan tiga pemain rebana sekaligus penyair keluar dari belakang panggung megah yang dihiasi oleh kilapan lampu warna-warni. Mereka keluar dengan gagahnya menggunakan baju seragam yang merupakan perpaduan antara warna kuning emas, orange,biru dan pink. Penampilan peserta Tangkai Seni Hadrah perwakilan Kabupaten Pontianak sangat memukau para penonton karena kekompakan dan kreativitas yang diiringi oleh musik yang berbau islami. Gerakan yang ditampilkan selaras dengan musik dan penuh dengan kejutan salah satunya menggunakan tongkat. Penampilan ini ditutup dengan tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Giliran selanjutnya nomor urut dua dari DPD Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sekadau akan tetapi peserta agak lama keluar dari belakang panggung karaena hal teknis akan tetapi tidak menyurutkan antusiasme penonton untuk memberikan dukungan. Seperti halnya peserta pertama dari belakang panggung keluar sekumpulan laki-laki dan tiga orang pemain rebana dan penyair, dengan perpaduan busana hijau dan kuning yang merupakan khas dari melayu. Peserta kedua tidak seheboh yang pertama karena gerakannya kurang kompak dan tidak ada hal yang baru, sementara itu syair yang dikumandangkan lebih berbau kepada budaya melayu berbeda dengan yang pertama lebih islami. Penampilan ketiga oleh DPD Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas, ada yang sedikit berbeda dari penampilan ini karena para penari merupakan kumpulan para wanita karena penampilan sebelumnya dilakukan oleh kaum adam. Para penari dibalut dengan busana serba pink dan menggunakan jilbab, para penari terlihat sangat apik dalam membawakan tarian mereka, gerakan mereka sangat lentik dan ada beberapa paduan serta hal-hal baru yang berbeda dari peserta lainnya. Penampilan keempat oleh Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Melawi akan tetapi karena malam semakin larut saya bergegas melangkahkan kaki untuk pulang ke rumah dan mengakhiri kisah ini.
Hari yang bebeda, hal ini juga merupakan rangkaian dari acara Festival Seni Budaya Melayu yaitu Seminar Internasional Melayu Gemilang Warisan Kearifan Lokal dan Pendidiakn Karakter Nusantara tepatnya pada tanggal 21 Desember di Hotel Orchadz yang terletak di Jalan Perdana seminar ini diikuti oleh tiga negara yaitu Indonesia, Brunei Darusalam dan Malaysia untuk kali ini Pontianak menjadi tuan rumah. Panas matahari yang terik kemudian diguyur hujan tidak menyurutkan niat kami untuk mengikuti seminar ini, kami tiba di hotel pukul jam 14.00 WIB sehingga terlambat untuk mengikuti seminar di lantai enam karena ruangan sudah penuh, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sidang paralel di lantai tiga. Awalnya sedikit malu untuk memasuki ruangan karena para peserta dari kalangan yang ahli dibidangnya, kami memutuskan untuk masuk dan duduk di deretan belakang.
 Sidang paralel 7 dimulai pukul 14.45 WIB dengan moderator Dedy Ari Asfar dan pemakalah empat orang yaitu dari Indonesia, Brunei Darusalam, dan Malaysia, pemakalah pertama dari Malaysia yaitu Prof.Madya Dr.Mohd Isa Othman dengan judul Histiografi Melayu Tradisional Negeri Pengalaman Kedah. Pemakalah kedua dari Brunei Darusalam Pengiran Hajah Mahani Binti Pengiran H.Ahmad dengan judul Koleksi Bahan Berunai di Luar Negeri. Pemakalah ketiga dari Indonesia H.Baidillah Riyadi, M.Ag dengan judul Kitab Qanun Melaka, terakhir Didik M.Nur Haris, Lc.M.Sh. dengan judul Fikih Nikah Melayu Karya Guru H.Ismail Mundu. Setiap pemakalah diberikan waktu 10 menit untuk memaparkan materi, hal yang dipaparkan tentang Kedah dengan kebudayaan melayunya, banyak sekali yang dijelaskan oleh pemakalah tentang daerah itu yang bisa membuka wawasan kita tentang budaya melayu di negara tetangga. Suasana ruangan sunyi karena para peserta serius mendengar pemaparan sang pemakalah akan tetapi karena sang pemakalah datang dari negara tetangga bahasa yang digunakan agak sedikit kurang dimengerti sehingga kami agak kesulitan dalam mecerna materi yang disampaikan, karena asik bercerita pemakalah sampai lupa waktu sehingga harus diingatkan oleh moderator. Pemakalah kedua tidak terlalu banyak berbicara karena menampilkan sebuah slide film yang berdurasi kurang lebih 8 menit yang berisi tentang kunjungan mereka ke beberapa daerah di Kalimantan Barat untuk mengumpulkan bukti tentang kesamaan budaya melayu antara Malaysia dan Indonesia. Sang ibu hanya sedikit berkomentar mengenai film yang ia tampilkan selebihnya mempersilakan para peserta untuk melihat sendiri tayangan tersebut. Setelah pemakalah kedua selesai memaparkan materi kami beranjak dari kursi untuk meninggalkan ruangan dan bergegas pulang karena kami telah mendapatkan yang diinginkan.  

GALUH PUSPITA SARI F01111012



FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU VIII
 TANGKAI SENI HADRAH

PONTIANAK- Ribuan pengunjung dari berbagai daerah Kalimantan Barat membanjiri Rumah Adat Melayu Pontianak di Jalan Sutan Syahrir, Kamis malam (20/12) sekitar pukul 18.00 WIB kemarin untuk menyaksikan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke VIII yang diadakan oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu (PPKM) Universitas Tanjungpura Pontianak.
Festival Seni Budaya Melayu yang diadakan malam tersebut menampilkan pergelaran cabang perlombaan Seni Hadrah yang pesertanya datang dari 13 kabupaten/kota se-kalimantan barat. Seni Hadrah merupakan salah satu kesenian islam yang dibawakan dengan tar dan juga disertai tarian. Pemain tar  bernyanyi sambil duduk, melantunkan syair yang indah berisi shalawat dan pujian kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, iramanya sangat merdu sehingga dapat membuat hati yang telah beku menjadi cair kembali.
Ribuan pengunjung dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat berbondong-bondong memadati areal rumah adat melayu untuk menikmati pertunjukkan Tangkai Seni Hadrah tersebut. Areal parkir rumah adat melayu dipenuhi oleh kendaraan, sehingga harus memakan sebagai badan jalan raya untuk dijadikan tempat parkir yang membuat macet arus lalu lintas. Dan tidak sedikit juga pengunjung yang datang hanya dengan berjalan kaki.
Suasana yang amat sangat ramai juga terjadi di dalam rumah adat melayu. Riuhnya sorak-sorai penonton menambah semarak dalam ruangan tersebut walaupun acara yang ditunggu belum dimulai. Penontonpun terus bersorak-sorai sambil menunggu penampilan dari para peserta. Ruangan ini terlihat sangat megah, dengan tiang-tiang yang menjulang, dinding yang berwarna kuning keemasan dan dihiasi dengan jendela-jendela besar serta panggung yang besar. Ratusan kursi yang disediakan panitiapun tidak cukup untuk menampung penonton yang sangat antusias untuk menyaksikan festival Tangkai Seni Hadrah.
Saya memilih untuk duduk di lantai, tepat di depan panggung agar dapat leluasa menyaksikan dan menikmati pertunjukan seni hadrah tersebut, dan lagi pula kursi yang tersedia telah penuh dengan peserta seni hadrah dan para penonton yang sangat bersemangat untuk menyaksikan pertunjukan ini. Setelah itu, mulailah pertunjukkan yang kami tunggu, dengan pembukaan yang diiringi oleh pembawa acara, kemudian pembawa acara memeperkenalakan para juri tangkai seni hadrah yang sangat berwibawa. Tangkai seni hadrah terdiri dari tiga juri yaitu Syarif Slamet Yusuf Al-Kadri, Syawaludin, dan Mu’in. Setelah memperkenalkan juri, barulah pembawa acara memanggil peserta pertama dari tangkai seni hadrah ini, peserta pertama merupakan perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Pontianak tepatnya Mempawah. Dengan sekejap, ruangan tersebut dipenuhi dengan teriakan dan tapuk tangan yang penonton yang meriah seakan-akan membelah angkasa.
Perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Mempawah membuka pertunjukkannya dengan terlebih dahulu memberi salam dalam bentuk gerakan badan yang terdiri dari 12 orang penari remaja putra dan diiringi 3 orang  dewasa sebagai pemain tar sekaligus bersyair yang berumur sekitar 40 tahun ke-atas. Setiap pemain gendang memiliki pukulan yang berbeda-beda sehingga terciptanya nada yang harmonis dan selaras dengan syair yang dilantunkan. Kostum yang digunakan dalam pertunjukkan kesenian hadrah ini menarik perhatian mata yaitu berwarna merah muda dan biru. Para penari ini selama lebih kurang 15 menit. Penampilan dari perwakilan MABM Mempawah kurang memuaskan karena gerakannya tidak kompak, dan ada beberapa peserta yang kelihatan sekali kebingungan dalam melakukan gerakannya.
            Peserta kedua merupakan perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sekadau. Sama seperti perwakilan pertama, perwakilan MABM Kabupaten Sekadau ini juga terdiri dari 12 penari remaja putra dan 3 orang pemain tar. Penari MABM Kabupaten Sekadau ini menggunakan baju perpaduan warna kuning dan hijau. Pertunjukkan dari peserta kedua ini juga dimulai dengan pemberian salam. Syair yang dilantunkan mengalun-alun ditelinga, dan tarianpun lebih kompak dari peserta MABM Mempawah. Dan dipeserta kedua ini juga saya temukan kekurangannya karena menurut saya penampilan peserta kedua ini sedikit membosankan karena gerakan tariannya tidak variasi (selalu diulang-ulang).
            Peserta ketiga berasal dari perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sambas yang terdiri atas 12 orang penari remaja putri dan 3 orang pria dewasa sebagai pemain tar. Para penari menggunakan kerudung dan baju yang berwarna merah muda. Penampilan peserta ketiga ini semakin memukau dengan tarian yang lebih bervariasi dan lebih rapi, lentik jari para penari serta kekompakan tariannya menggambarkan bahwa mereka memang sudah terlatih. Lebih kurang 15 menit, bergantilah lagi dengan perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Melawi yang terdiri dari 12 orang penari remaja putri menggunakan baju merah dan kerudung hitam.
            Dan penampilan terakhir yang saya saksikan merupakan peserta kelima perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak. Sontak suasana dalam ruangan menjadi riuh, bergema dengan tepuk tangan dan teriakan para penonton yang mendukung perwakilan MABM Kota Pontianak. Merdu suara para pemain tar, diiringi hentakan tangan membunyikan tar serentak bagai irama yang menentramkan dunia, panggung seketika menjadi berkilau bagai mutiara yang indah karena senyuman manis para penari yang cantik rupawan. Syair yang dilantunkan berisi ajakan untuk para generasi muda untuk melestarikan budya melayu agar tidak punah. Baju yang digunakan berwarna hijau muda, sungguh indah. Gerakan para penarinyapun kompak dan lembut. Penari terdiri atas 12 orang remaja putri dan 3 orang remaja putrid sebagai pemain tar.
            Dari kelima penampilan yang saya saksikan, saya sangat menyukai pertunjukan dari perwakilan MABM Kota Pontianak. Dan tidak hanya pertunjukkan dalam rumah adat melayunya saja yang dapat kita nikmati. FSBM VIII juga dimeriahkan dengan berbagai pameran dari MABM 13 kabupaten/kota dan kuliner melayu yang digelar di halaman rumah adat melayu. Kita dapat memanjakan mata kita dengan keindahan yang dipamerkan dimasing-masing stan kesenian dari derahnya masing-masing. Selain stan kesenian, ada juga stan makanan, minuman dan pernak-pernik seperti bros, gantungan kunci, perhiasan dan jam tangan. Dan disebelah kanan rumah adat melayu, berdiri sebuah panggung yang lumayan besar tetapi belum dipergunakan pada saat malam itu.
            Pertunjukkan seni hadrah ini sungguh memesona. Untuk kedepannya,  diharapkan lebih banyak lagi cabang-cabang seni yang diperlombakan, agar budaya kebanggan kita tidak hilang termakan zaman. Kalau masyarakat menyukai seni dan mengembangkan budaya mereka, tentu mereka bisa menghindari segala sesuatu yang sifatnya negatif. Itu yang penting untuk peninggalan generasi muda mendatang. Dan mengembangkan kesenian ini agar bisa terkenal dan menasional.


SEMINAR INTERNASIONAL MELAYU GEMILANG

PONTIANAK- Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat 2012 bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kebudayaan Budaya Melayu (PPKBM) dan Universitas Tanjungpura Pontianak, Jum’at (21/12) pukul 14.30 menggelar Seminar Internasional Melayu Gemilang dalam rangka Festival Seni Budaya Melayu di Hotel ORCHARDZ, Jalan Perdana.
Sore itu, saya pergi ke Hotel Orchardz bersama lima orang sahabat karib saya. Kepergian kami diiringi oleh isakan tangis bumi. Ternyata sesampainya kami disana, seminar yng diadakan diruang C lantai 6 telah dimulai dan kursi-kursi telah penuh terisi. Akhirnya kami menunggu giliran seminar di lantai 3 ruang A dimulai. Tepat pukul 14.30 seminarpun dimulai.
Seminar yang bertemakan Warisan Kearifan Lokal dan Peendidikan Karakter Nusantara dipandu oleh dsen Bahasa Indonesia kami yaitu bapak Dedi Ari Asfar sebagai moderator dalam seminar tersebut. Moderator membuka seminar dengan terlebih dahulu memberi salam dan memperkenalkan pemakalah serta tata cara dalam pelaksanaan seminar ini. Moderator memberikan waktu 10 menit kepada masing-masing pemakalah untuk menyampaikan isi makalahnya.
Pemakalah satu yaitu Prof. Madya Dr.Mohd Isa Othman dari Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh, Universiti Sains, Malaysia. Beliau membahas tentang histiografi melayu tradisional negeri pengalaman Kedah Darul Aman. Pemakalah du yaitu Pengiran Hajah Mahani Binti Pengiran H. Ahmad dari Pusat Sejarah Brunai Negara Brunai Darussalam. Beliau membahas tentang Koneksi bahan brunai di luar negeri. Pemakalah 3 dan 4 datang dari Universitas Polytekhnik Pontianak yaitu H. Baidhillah Riyadi, M.Ag. dan Didik M. Nur Haris, Lc.M.Sh. . Pemakalah tiga membahas tentang corak madzhab fiqh pada kitab qanun Melaka dan pemakalah empat membahas tentang fikih nikah melayu karya guru H.Ismail Mundu.
Sementara seminar berlangsung, orang-orang yang menyaksikan seminar tersebut juga banyak yang tidak fokus, kebanyakan dari mereka sibuk sendiri dengan urusannya masing-masing, ada yang asik dengan handphonenya dan juga tenggelam dalam obrolannya masing-masing. Sesaat kemudian, kamipun meninggalkan hotel tempat berlangsungnya seminar tersebut masih dengan diiringi isakan tangis bumi.

Kamis, 10 Januari 2013

ADITYA HENDRA PRAMANA F01108067



           
 FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT
                Petang itu sekitar pukul 17.30 saya beserta teman-teman menyambangi sebuah gedung indah yang berarsitekkan khas melayu tersebut. Dan setibanya di depan halaman gedung tersebut telah nampak sekumpulan orang-orang yang ingin masuk ke dalam sana, saya beserta teman-teman pun ikut melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam sana walaupun jalan agak sedikit tergenang air dikarenakan hujan yang turun tidak lama sebelum kami mendatangi gedung tersebut.
            Saat memasuki halaman gedung tersebut terlihatlah berbagai aneka ragam pameran yang disuguhkan untuk menjamu kedatangan kami, dengan adanya kegiatan ini banyak yang memanfaatkan untuk membuka stand-stand yang menjajakan dagangan mereka karena kegiatan ini hanya diadakan setahun sekali saja.Dan pada saat itu pengunjung sedang ramai-ramainya mendatangi kegiatan festival budaya melayu tersebut sehingga saya dan teman-teman agak sedikit berdesakkan dengan pengunjung lainnya untuk memasuki gedung tersebut.
            Malam itu terasa ramai sekali, mungkin banyak pengunjung dari luar kota Pontianak yang menghadiri acara tersebut pada malam itu. Saya dan teman-teman pun terus berjalan melewati kerumunan manusia yang memadati area stand-stand kegiatan ini untuk memasuki gedung indah yang terpampang di depan kami karena kami merasa ada panggilan yang menyuruh kami untuk masuk ke dalam.
            Dan semakin kami mendekati gedung tersebut rasanya kerumunan manusia semakin padat hingga sampailah saya beserta teman-teman sampai di depan masuk gedung yang indah tersebut, setelah kami memasuki bagian depan gedung tersebut begitu kagetnya kami karena melihat keindahan gedung bagaikan istana zaman dahulu itu telah tertata rapi dengan hiasan-hiasan yang sangat memanjakan mata. Kami agak terkejut karena para tamu undangan dan pengunjung yang datang lebih awal telah duduk rapi di kursinya masing-masing sedangkan kami sibuk mencari kursi kosong yang siap menopang kami dan ternyata pada malam itu kursi telah penuh diisi oleh para tamu undangan dan pengunjung yang datang lebih awal.
            Begitu kecewanya kami karena tidak dapat duduk dan bergumam di dalam hati mengapa tidak datang lebih awal lagi. Tidak berapa lama tiba-tiba ada suara wanita indah yang menghimbaukan untuk para pengunjung yang berdiri dapat duduk lesehan di belakang juri, betapa berseri-serinya wajah kami setelah mendengar himbauan dari MC tersebut dan tanpa pikir panjang saya dan teman-teman langsung melangkahkan kaki untuk mengambil posisi duduk di belakang meja juri, dan betapa senangnya kami karena merasa terhormat bisa duduk dekat dengan para juri yang bertugas pada malam itu.
            Untuk mendapatkan posisi duduk yang diinginkan butuh usaha yang lumayan susah karena kami harus bersikut-sikutan dengan pengunjung yang lain, karena bukan kami saja yang ingin duduk di tempat tersebut. Banyak pengunjung lain yang masih berdiri ingin duduk di tempat tersebut. Setalah semua pengunjung telah memenuhi gedung dengan rapi lagi-lagi terdengar suara dari pembawa acara bahwa acara lomba vocal group lagu daerah akan segera dimulai.
Dan sebelum acara dimulai sekali lagi pembawa acara menghimbau kepada para tamu undangan dan pengunjung “untuk tidak merokok di dalam ruangan, untuk para fotographer yang ingin mengambil gambar untuk tidak menggunakan lampu blitz dalam mengambil gambar, dan tepuk tangan hanya boleh dilakukan sebelum dan sesudah peserta tampil.”Ujar pembawa acara yang ternyata sedsang membacakan peraturan bagi para penonton di dalam ruangan.
Setelah membacakan aturan-aturan tersebut si pembawa acara mulai memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar acara ini dapat berjalan dngan lancar hingga selesai, dan terlihat para pengunjung sangat hikmat dalam sesi pembacaan doa ini. Kemudian pembawa acara menyebutkan dan memperkenalkan satu per satu nama juri dan juga pejabat asal daerah para peserta yang hadir pada malam itu tidak luput diperkenalkan oleh pembawa acara tersebut.
Sesaat kemudian suasana ruangan menjadi hening dan beberapa pengunjung sibuk dengan kegiatannya masing-masing tiba-tiba terdengarlah suara ledakan yang sangat mengejutkan, tiga kali suara ledakan tersebut terdengar dan bunyi tersebut berasal dari meriam yang diledakkan oleh panitia yang menandakan bahwa acara pada malam itu akan segera dimulai. Betapa terkejutnya para pengunjung malam itu yang tidak mengetahui bahwa meriam yang sangat khas dengan budaya melayu ini diledakkan, dan suasana kembali menjadi meriah setelah meriam tersebut diledakkan.
Dan kembali suara pembawa acara menyerukan dengan nada semangat “ini dia peserta pertama asal Kapuas Hulu kita persilahkan untuk naik ke atas panggung”. Sontak para penonton yang berasal dari Kapuas Hulu bersorak ria memberikan dukungan kepada peserta yang berasal dari tanah kelahiran mereka, peserta yang terdiri dari 8 pria dan 2 wanita dengan mengenakan busana serba hijau muda telah siap berbaris di depan panggung untuk memulai penampilan mereka.
Dari kesepuluh peserta yang berasal dari Kapuas Hulu ini 2 orang pria dan 2 orang wanita menjadi penyanyi dan sisanya membawakan alat music, setelah melakukan check soundakhirnya penampilan mereka dimulai dengan membawakan lagu wajib Kopi Pancong dan lagu asal daerah mereka yaitu Dara Sempoa, music pun mulai mengalun dengan merdu dan penyanyi mulai mendendangkan lagu sembari bergoyang mengikuti alunan musik. Dan para juri pun mulai menggoreskan tintanya di kertas penilaian sambil memperhatikan penampilan peserta untuk memberikan penilaian penampilan peserta pertama ini.
Setelah penampilan dari peserta pertama ini selesai suasana pun kembali riuh oleh tepuk tangan dari para penonton dan peserta pun turun dari panggung dengan wajah yang sangat riang, sepertinya mereka sangat puas dengan penampilan mereka malam itu. “Yah bagus sekali penampilan dari Kapuas Hulu malam ini” sahut si pembawa acara memberikan komentar, dan si pembawa acara mempersilahkan kepada peserta kedua untuk naik ke atas panggung dan segera melakukan check sound “dan inilah peserta kedua dari Kayong Utara” sahut si pembawa acara, dan peserta langsung naik ke atas panggung dengan mengenakan busana berwarna hijau tua dan kuning yang terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita. Pada saat peserta melakukan check sound agak sedikit memakan waktu dikarenakan ada masalah  padasound system.
Setelah beberapa saat akhirnya peserta dapat memulai penampilannya, dan peserta dari Kayong Utara akan membawakan lagu wajib Kopi Pancong dan lagu daerah asal mereka yang berjudul Suka Dane, dengan 5 penyanyi wanita dan 2 orang pria. Pada saat penampilan dimulai salah satu peserta terlihat sangat bersemangat sehingga pada saat itu terjadi kesalahan yang mengundang tawa para penonton tetapi dengan percaya diri peserta tetap melanjutkan penampilannya.Dan akhirnya selesailah penampilan peserta dari Kayong Utara tersebut yang diriuhkan oleh tepuk tangan dari penonton.
Dan untuk penampilan ketiga akan ditampilkan oleh peserta dari Singkawang, setelah peserta naik ke panggung betapa tersipunya mata ini karena melihat peserta wanita dari Singkawang ini begitu menghibur mata saya. Peserta beranggotakan 6 orang laki-laki dan 4 orang wanita dengan mengenakan busana berwarna merah lengkap dengan pernak-perniknya.Saat itu tatapan para penonton pria yang hadir di ruangan tersebut terlihat meleleh melihat peserta wanita dari Singkawang ini.Penampilan peserta dari Singkawang ini terlihat lebih meriah karena peralatan musik yang dibawa banyak sekali.
Peserta dari Singkawang ini akan membawakan lagu wajib Kopi Pancong dan lagu daerah mereka yang berjudul Ngeramok. Sesaat penampilan dimulai sang juri pun juga mulai sibuk memberikan penilaian penampilan peserta dari Singkawang dan betapa terkejutnya saya ketika salah seorang juri tiba-tiba menyalakan sebatang rokok di dalam ruangan, padahal peraturan di awal yang telah dibacakan pembawa acara bahwa tidak boleh merokok di dalam ruangan tersebut. Dan saya beserta teman-teman hanya menggelengkan kepala saja mengapa seorang juri yang terhormat tidak mematuhi peraturan yang telah dibacakan oleh pembawa acara tadi.
Waktu berlalu begitu cepat dan tidak terasa hari mulai semakin malam walaupun para pengunjung masih memadati ruangan di dalam gedung tersebut dan masih ada beberapa pengunjung yang baru datang, tetapi saya dan teman-teman mengambil keputusan untuk menyudahi tontonan dan segera angkat kaki dari gedung ini. Dan akhirnya saya dan teman-teman melangkahkan kaki keluar dari gedung ini dan akhirnya kami dapat menghirup udara segar.
Dan keesokkan harinya pada tanggal 21 Desember 2012 saya dan teman-teman berbondong untuk mengikuti Seminar Internasional Melayu Gemilang yang di adakan di Hotel Orchadz yang berada di Jalan Perdana. Setibanya disana kami disambut oleh panitia dan meminta arahan dari beliau, setelah mendapat arahan akhirnya kami memilih untuk mengikuti seminar yang berada di dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas dan telah terisi oleh pemateri dan peserta lainnya dimana ada juga dosen yang berasal dari fakultas kami.
Saat saya ingin masuk dari panitia mengarahkan untuk mengikuti kegiatan seminar yang di adakan di ruangan lainnya, tetapi saya tidak tahu mengapa saya tiba-tiba ingin masuk ke ruangan yang pertama saya lihat tadi dan saya memutuskan untuk masuk dan rupanya masih ada bangku kosong yang bisa saya duduki, pada saat itu kegiatan seminar baru saja dimulai dan saya langsung mengikuti seminar tersebut. Seminar yang saya ikuti ini berjudul “Etnosentrisme Konsumen dan Sikap terhadap produk-produk Malaysia dan Amerika.Dengan lugas pemateri membahas permasalahan di seminar ini.Judul ini sangat menarik karena membahas tentang kegiatan yang berkaitan dengan bidang ekonomi.
Dari materi yang diterangkan beliau mengatakan bahwa citera produk Malaysia terutama makanan sangat mendominasi di Indonesia dan dalam waktu 6 bulan meningkat 40% dan devisitnya pun semakin meningkat, Indonesia menjadi pengaruh besar dari meningkatnya devisa tersebut. Ramadania beserta team melakukan penelitian mengambil perbandingan antara produk Malaysia dan Amerika yang melakukan intervensi di berbagai negara, lokasi penelitian diadakan di Kalimantan Barat dengan perbandingan suara antara masyarakat pedalaman dan masyarakat perkotaan.
“Penelitian ini menggunakan skala pengukuran sekunder variable” ujar pemateri mempertegas pernyataannya. Berdasarkan survey yang telah dilakukan pada penduduk perkotaan di dapat kesimpulan bahwa produk Amerika lebih diminati disbanding Malaysia dikarenakan adanya pandangan bahwa Amerika adalah Negara maju sehingga produknya pasti berkualitas, sedangkan pada penduduk pedalaman khususnya perbatasan mereka lebih memilih produk Malaysia karena jarak yang dinilai cukup dekat dan memfasilitasi penduduk disana
Pada Malaysia, citera produk sangat berpengaruh terhadap sikap orang banyak. Orang yang etnosentrismenya tinggi akan menolak produk yang berasal dari luar, suku Melayu akan lebih memilih produk dari Malaysia karena factor persamaan kultur yang dinilai jelas kualitas dan rasanya disbanding produk Amerika yang belium jelas komposisinya, tetapi orang yang rasional lebih memilih produk Amerika karena mereka berfikir bahwa Amerika adalah Negara maju.
Materi dari Rahmadania tersebut pun di akhiri dan dilanjutkan oleh pemateri lainnya yang membawakan materi yang berbeda.Dan akhirnya sesi seminar ini ditutup oleh Tanya jawab, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi liputan kami di seminar ini dan keluar dari ruangan seminar. Demikianlah hasil liputan tentang Festival Budaya Melayu  dan Seminar Internasional Melayu Gemilang yang telah saya dan teman-teman ikuti.











REZA SAPUTRA F01111066




FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU  VIII

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat menggelar Festival Seni Budaya Melayu VIII di Kota Pontianak pada 17-23 Desember 2012. "Peserta festival terdiri dari 13 kabupaten/kota, kecuali Majelis Adat Budaya Melayu Ketapang yang tidak ikut,". Selain itu ada juga peserta dari luar daerah, ada peserta asal Pekanbaru, Aceh, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tema festival itu sendiri adalah  "Seni Cemerlang Melayu Gemilang". Artinya, mengembangkan kesenian dan budaya Melayu agar ke depannya lebih berkreasi dan lestari,
Pada festifal budaya melayu kali ini, di meriahkan oleh perlombaan beberapa acara yang bersifat kesenian seperti : Tangkai Syair Melayu, Tangkai Berbalas Pantun, Tangkai, dan Vocal Group Lagu Daerah. Acara tersebut dimeriahkan oleh berbagai kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan barat. Hadirin maupun peserta terlihat sangat antusias dalam pergelaran festival tersebut. Ini terlihat dari banyaknya hadirin yang menghadiri acara tersebut. Para peserta juga terlihat sangat bersemangat mengikuti lomba tersebut. Tampilan mereka sangat baik dan cukup menarik perhatian para penonton. Bahkan tidak sedikit dari penonton yang rela duduk dilantai untuk melihat tampilan dari para peserta.
Diluar gedung kita bisa melihat banyak stand-stand pemeran dari berbagai daerah yang ada di Kalimantan barat. Beberapa daerah tersebut anatara lain kabupaten sanggau, kabupaten sambas, kabupaten sintang, kabupaten Kapuas hulu, kabupaten Pontianak, dan masih banyak lagi. Daerah-daerah tersebut banyak memperlihatkan berbagai macam produk andalan daerah masing-masing, baik dari kuliner, pariwisata hingga sejarah daerah masing-masing. Namun pada pameran tersebut harga yang mereka jual terlalu mahal, sehingga tidak sesuai dengan kantong kami para mahasiswa.
Untuk Vocal Group Lagu Daerah sendiri di laksanakan pada tanggal 21, yang di ikuti oleh perwakilan setiap peserta kabupaten/kota yang ikut memeriahkan acara Festival Seni Budaya Melayu VIII. Pada saat pelaksanaan perlombaan, sepertinya panitia kurang siap, itu terlihat dari banyaknya kendala yang di hadapi peserta, yang tentunya sangat merugikan kontestan yang tampil untuk menunjukan lagu daerah mereka masing – masing. Seperti yang di alami oleh peserta dari kabupaten kayong utara yang merupakan penampilan pembuka dari perlombaan Vocal Group Lagu Daerah. Padasaat mereka tampil suara dari vocal group tersebut tidak kedengaran sehingga penonton kurang menikmati persembahan dari mereka. Begitu juga yang di alami oleh peserta ke dua dari kota singkawang, saat ingin memulai penampilan mereka terlehat panitia kewalahan dalam mempersiapkan sound system. Akan tetapi terlepas dari hal tersebut, untuk keseluruhan acara tersebut sangatlah menarik dan perlu di tingkatkan lagi untuk kedepannya.
FSBM VIII juga dimeriahkan dengan berbagai pameran dari MABM 13 kabupaten/kota dan kuliner Melayu yang akan digelar di halaman Rumah Melayu, ambahnya. Chairil berharap ke depan FSBM menjadi lebih ramai, variatif, dan bisa mengikutkan kelompok Melayu dari daerah lain. Selain itu, akan menonjolkan segala sesuatu yang menjadi ciri khas Melayu diminta untuk ditonjolkan. Seperti kuliner, permainan rakyat, dan berbagai macam seni. Mulai dari tari, musik, dan lain sebagainya. Seperti stand dari kabupaten sambas di stand ini menyajikan makanan khas sambas seperti bubur pedas dan dodol, selain itu juga terdapat gambar yang menceritakan kondisi sambas pada zaman dahulu. Untuk penak pernik, dari stand kabupaten sambas menjual kerajinan khas sambas seperti kain tenun dan hasil kerajinan tangan.
Pasti tidak asing lagi bila mendengar  kerupuk basahkan? Ya, ini merupakan makanan khas dari daerah Kapuas Hulu yang yang menjual kerupuk basah. Kerupuk basah ini terbuat dari ikan, kerupuk ini dikatakan basah karena emang bentunya basah tidak seperti kerupuk jenis lainnya yang di goreng. Kerupuk basah ini dimakan dengan menggunakan bumbu kacang yang pedas manis dan kental dan rasa nya yang enak dan mengeyangkan. Untuk satu porsi kecil penjual menghargakannya dengan harga Rp12000,00 . Kita juga bisa membeli kerupuk untuk oleh-oleh orang di rumah. Disamping stan Kapuas Hulu ada stan dari daerah Kabupaten Kubu Raya. Tampak seorang penjaga stan yang duduk menjaga stannya.stan ini yang memamerkan hasil kerajinan makanan olahan mereka yaitu pisang salai atau lengkeng pisang. Mereka juga menampilkan cara pembutankeripik pisang dengan jumlah yang banyak. Pisang yang digunakan yaitu pisang kepo. Pisang ini bagus untuk dibuat lengkeng pisang atau pisang salai.
Masih banyak lagi stand – stand dari daerah lain yang menyediakan pernak pernik dan makanan khas dari daerah masing – masing. Untuk secara keseluruhan acara seperti ini sangat bagus karena selain untuk menjadi salah satu referensi hiburan, juga bisa di jadikan salah satu daya tarik pariwisata di kal-bar serta bisa di jadikan ajang untuk melestarikan budaya bangsa, khususnya budaya melayu.


SEMINAR INTERNASIAONAL MELAYU GEMILANG

Selain Festival Seni Budaya Melayu Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat juga mengelar seminar internasional tentang Seni dan Budaya Melayu kerja sama Pusat Penelitian Kebudayaan Budaya Melayu Universitas Tanjungpura Pontianak, yang akan menghadirkan 105 pemakalah. Di antaranya dari Untan Pontianak, serta 25 pemakalah dari luar, seperti dari Brunei Darussalam enam pemakalah, Kuching enam pemakalah, sisanya 13 pemakalah dari Malaysia,
            Dalam seminar tersebut, salah satu pemakalah membahas tentang budaya melayu dan membandingkannya dengan budaya dari Negara lain. Seperti pada cerita lokal terdapat kearifan lokal yang mencerminkan budaya dan karekter bangsa. Sedangkan pada cerita dari Negara lain pemakalah pada saat itu membandingkannya dengan cerita sincan dari jepang, yang sangat tidak mendidik, karena cerita sincan sebernarnya adalah hiburan buat anank – anak akan tetapi dalam cerita tersebut sangat tidak mencerminkan ahlak seorang anak – anak, di mana dalam penggalan cerita tersebut menunjukan salah satu percakapan yang sangat vilgar bagi seorang anak – anak.
            Ke depan diharapkan lebih banyak lagi yang muncul, karena sering kali pemerintah kita tidak terlalu serius menganggarkan event-event seperti ini. Padahal luar biasa membantu program pemerintah. Kalau masyarakat menyukai seni dan mengembangkan budaya mereka, tentu mereka menghindari segala sesuatu yang sifatnya negatif, paparnya. Pihaknya bertekad ke depan akan melakukan kajian-kajian. Agar tidak hanya sebatas bisa dilihat tetapi juga dibaca. Itu yang penting untuk peninggalan generasi muda mendatang.
Saya kira dengan sendirinya event ini menasional. Karena sejumlah televisi nasional juga ikut serta menyiarkan. Biarlah Riau, Medan, Ambon, dan Kalbar melakukannya sendiri. Lebih banyak lebih bagus. Kalau dipusatkan satu tempat akan merepotkan, pungkasnya. Peserta FSBM VIII diikuti dari 13 kabupaten/kota, terkecuali MABM Ketapang yang tidak ikut, kemudian dari Pekanbaru, Provinsi Aceh, Malaysia, dan Brunei Darussalam.